Kamis, 20 Agustus 2009

FAKTOR PENDORONG, PENGHAMBAT, DAN PENYEBAB PERUBAHAN SOSIAL

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat umumnya dikarenakan anggota masyarakat merasa tidak puas dengan kehidupan yang lama. Norma-norma dan lembaga-lembaga yang ada di anggap tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hidup yang baru. Oleh karenanya, masyarakat menuntut adanya perubahan. Pada dasarnya perubahan tidak terjadi bagitu saja tanpa ada factor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam sosiologi dijelaskan bahwa perubahan social terjadi adanya factor-faktor pendorong, penghambat, dan penyebab perubahan social.

1. Faktor pendorong perubahan social

Secara umum terjadinya perubahan social dalam masyarakata dipengaruhi oleh factor-faktor tersebut antara lain :

a. Kontak dengan budaya lain

Berhubungan dengan budaya lain dapat pula mendorong munculnya perubahan social. Bila dua kebudayaan saling bertemu maka kedua kebudayaan tersebut akan saling mempengaruhi yang akhirnya membawa perubahan. Hubungan atau kontak dengan kebudayaan lain dapat dilakukan denga 3 cara yaitu difusi (pertukaran informasi), akulturasi (kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus), asimilasi (proses sosial yang timbul bila ada golongan-golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan dari golongan-golongan manusia tersebut masing-masing berubah sifatnya yang khas dan juga unsur-unsurnya masing-masing berubah wujudnya menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran[1]), dan akomodasi (suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang mengarah kepada adaptasi sehingga antar individu atau kelompok terjadi hubungan saling menyesuaikan untuk mengatasi ketegangan-ketegangan[2])

b. Sistem pendidikan formal yang maju

Pendidikan formal dalam hal ini berarti pendidikan yang ditempuh melalui jenjang-jenjang pendidikan seperti SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Dengan pendidikan kita dapat membuka pikiran serta menerima hal-hal baru. Selain itu kita dapat membandingkan kebudayaan mana yang mampu memenuhi kebutuhan kita serta kebudayaan mana yang tidak sesuai. Melalui pengetahuan itu, mendorong seseorang mengadakan perubahan untuk mencapai tujuan hidupnya.

c. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju

Sikap tersebut merupakan salah satu sikap yang mendorong munculnya penemuan-penemuan social yang membawa perubahan social. Karena jika hasil karya seseorang dihargai, maka seseorang akan terpacu untuk menemukan sesuatu yang baru.

d. Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat.

System terbuka ini memungkinkan adanya gerak gerak social vertical sehingga memberi kesempatan untuk menaiki stratifikasi tinggi. System ini mendorong seseorang melakukan perubahan menuju kearah yang lebih baik.

e. Penduduk yang heterogen.

Masyarakat yang heterogen akan lebih mudah melakukan perubahan. Contoh, masyarakat Indonesia yang memiliki kebudayaan, ras, dan ideology yang berbeda-beda. Masyarakat tersebut akan sangat mudah mengalami pertentangan. Pertantangan-pertentangan tersebut dapat menimbulkan keguncangan yang pada akhirnya mendorong terjadinya perubahan dalam masyarakat.

f. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.

Hal ini mendorong masyarakat melakukan perubahan. Dapat dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia. Contoh: adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap cara kerja pemerintah.


2. Faktor penghambat perubahan social

a. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain

Kehidupan terasing menyebabkan sebuah masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang terjadi di masyarakat lain. Mereka terkungkung dalam tradisinya sendiri dan tidak mengalami perubahan, Padahal kebudayaan lain dapat memperkaya kebudayaannya sendiri. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan kunci terjadinya perubahan sosial budaya.

b. Sikap masyarakat yang sangat tradisional

Masyarakat tradisional biasanya bersikap mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau. Mereka beranggapan bahwa tradisi tersebut secara mutlak tidak dapat diubah. Anggapan inilah yang menghambat adanya proses perubahan sosial. Keadaan tersebut akan menjadi lebih buruk apabila yang berkuasa dalam masyarakat yang bersangkutan adalah golongan konservatif.

c. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan

Pada dasarnya semua unsur kebudayaan tidak mungkin berintegrasi dengan sempurna. Namun demikian, terdapat beberapa unsur tertentu memiliki derajat integrasi yang tinggi. Keadaan inilah yang membuat suatu masyarakat merasa khawatir dengan datangnya unsur-unsur dari luar. Hal ini dikarenakan unsur-unsur tersebut mampu menggoyahkan integrasi dan menyebabkan perubahan-perubahan pada aspek-aspek tertentu di masyarakat.

d. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat

Terlambatnya perkembangan ilmu pengetahuan suatu masyarakat dimungkinkan karena kehidupan masyarakat yang terasing dan tertutup. Namun, dapat pula dikarenakan sebagai akibat dijajah oleh masyarakat lain. Biasanya masyarakat yang dijajah dengan sengaja dibiarkan terbelakang oleh masyarakat yang menjajah. Hal ini dimaksudkan menjaga kemurnian masyarakat guna mencegah terjadinya pemberontakan atau revolusi.

e. Adat atau kebiasaan

Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya. Adat dan kebiasaan ini dapat berupa kepercayaan, sistem mata pencaharian, pembuatan rumah, dan cara berpakaian tertentu. Adat dan kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat sehingga sukar untuk diubah.

f. Prasangka terhadap hal-hal yang baru atau sikap yang tertutup

Sikap demikian dapat dijumpai pada masyarakat yang pernah dijajah. Mereka selalu mencurigai sesuatu yang berasal dari negara-negara Barat. Secara kebetulan unsur-unsur baru kebanyakan berasal dari negara-negara Barat. Sehingga segala sesuatu yang berasal dari negara-negara Barat mendapat prasangka buruk oleh masyarakat setempat.

g. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis

Setiap usaha mengadakan perubahan pada unsur-unsur kebudayaan rohaniah biasanya diartikan sebagai usaha yang berlawanan dengan ideologi. Di mana ideologi masyarakat mempakan dasar integrasi masyarakat tersebut. Oleh karenanya, perubahan sosial tidak terjadi.

3. Faktor penyebab perubahan social

a. factor internal

Faktor internal merupakan faktor-faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri. Yang dimaksud dengan masyarakat di sini dapat kolektif dan dapat pula individual. Faktor-faktor internal

tersebut antara lain:

1) Bertambah atau Berkurangnya Penduduk

Bertambahnya penduduk yang sangat cepat menyebabkan terjadinya perubahan dalam struk-tur masyarakat, terutama yang menyangkut lembaga-lembaga kemasyarakatan. Contoh, dengan adanya urbanisasi, mencetak pengangguran-pengangguran baru yang menyebabkan meningkat-nya angka kemiskinan. Situasi ini mengakibatkan tingginya angka kriminalitas di kota-kota besar. Sedangkan berkurangnya penduduk karena urbanisasi mengakibatkan kekosongan yang berakibat berubahnya bidang pembagian kerja, stratifikasi sosial, dan lain-lain.

2) Penemuan-Penemuan Baru (Inovasi)

Penemuan-penemuan baru sebagai akibat terjadinya perubahan dapat dibedakan menjadi discovery dan invention, discovery merupakan penemuan baru dari suatu unsur kebudayaan yang baru, baik yang berupa alat baru ataupun berupa suatu ide yang baru. Gontoh, penemuan mobil diawali dengan pembuatan motor gas oleh S. Marcus.

Selanjutnya, discovery menjadi invention jika masyarakat sudah mengakui, menerima, bahkan menerapkan penemuan tersebut. Adanya mobil yang telah disempurnakan menjadi sebuah alat pengangkutan manusia merupakan salah satu wujud invention. Invention menunjuk pada upaya menghasilkan suatu unsur kebudayaan baru dengan mengombinasikan atau menyusun kembali unsur-unsur kebudayaan lama yang telah ada dalam masyarakat.

Menurut Koentjaraningrat, faktor-faktor pendorong individu mencari penemuan baru sebagai berikut.

a) Kesadaran dari orang per orang akan kekurangan dalam kebudayaannya.

b) Kualitas dari ahli-ahli dalam suatu keadaan,

c) Perangsang bagi aktivitas-aktivitas penciptaan dalam masyarakat.

3) Konflik dalam Masyarakat

Pertentangan atau konflik dalam masyarakat marnpu pula menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Secara umum pertentangan tersebut dapat berupa pertentangan antarindividu, antara individu dengan kelompok, antarkelompok serta konflik antargenerasi. Pada umumnya akibat konflik dapat merenggangkan kekeluargaan atau golongan. Hal inilah yang menyebabkan perubahan sosial dalam masyarakat.

4) Pemberontakan dan Revolusi

Pada umumnya pemberontakan terjadi karena adanya ketidakpuasan anggota masyarakat terhadap suatu sistem pemerintahan yang ada. Oleh karena situasi dan kondisi ini mendorong munculnya revolusi sebagai wujud dari pemberontakan. Adanya revolusi akan membawa perubahan-perubahan yang besar dan berlangsung cepat. Misalnya, revolusi Mei yang terjadi di Indonesia, perubahan-perubahan besar terjadi di Indonesia baik perubahan kepala negara, wakil kepala negara, struktur kabinet sampai pada perilaku warga masyarakat. Masyarakat menjadi lebih berani mengkritisi cara kerja pemerintah.

b. factor eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor-faktor yang berasal dari luar masyarakat yang bisa mendorong terjadinya perubahan sosial. Faktor-faktor tersebut antara lain:

1) Lingkungan Alam/Fisik di Sekitar Manusia

Lingkungan alam dapat mengakibatkan perubahan sosial. Terjadinya gempa bumi, banjir bandang, tsunami, topan, gunung meletus, dan lain-lain mengakibatkan sebagian warga yang tinggal di daerah tersebut terpaksa mengungsi ke daerah lain. Di tempat pengungsian, mereka haras beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya baik lingkungan fisik maupun sosialnya, kondisi ini mengakibatkan per­ubahan-perubahan pada lembaga-lembaga ke-masyarakatan. Contoh, masyarakat di Desa Siring, Porong, Sidoarjo. Akibat luapan lumpur panas mereka terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan untuk sementara mereka tidak bekerja.

2) Peperangan

Peperangan, terutama yang melibatkan dua negara dengan segala kekuatannya, berarti peperangan terjadi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lain di luar batas-batas negara. Sebagai akibatnya, rakyat mengalami kehidupan yang penuh ketakutan, harta benda menjadi hancur, menimbulkan kemiskinan dan tidak menutup kemungkinan menelan banyak korban jiwa. Akibatnya struktur masyarakat pun mengalami perubahan, sebagaimana perubahan yang terjadi pada negara Jepang setelah kalah dalam Perang Dunia II. Jepang berubah dari negara agraris militer menjadi suatu negara industri.

3) Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain

Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal balik. Yang pada akhirnya, memunculkan perubahan sosial. Hal ini dikarenakan masing-masing masyarakat memengaruhi masyarakat lain, tetapi juga menerima pengaruh dari yang lain sehingga terjadi penyebaran kebudayaan yang menghasilkan kebudayaan baru.



[1] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta, Rineka Cipta, 1990, hal. 248-255

[2] Menurut Gillin dan Gillin

1 komentar: